Subscribe:

Ads 468x60px

.

menu

Thursday, January 15, 2015

Macam-macam Teori Ketergantungan Pada Komunikasi Sosial Pembangunan

Teori Ketergantungan merupakan salah satu kelompok Teori Struktural yang menekankan lingkungan material manusia, yakni organisasi kemasyarakatan beserta sistem imbalan-imbalan material yang diberikannya, perubahan-perubahan pada lingkungan material manusia termasuk perubahan-perubahan teknologi. Ada dua induk teori ketergantungan Pertama adalah seorang Ekonom Liberal, yakni Raul prebish. Induk kedua adalah teori-teori Marxis tentang imperialisme dan kolonialisme.

1. Teori Raul Prebish : Industri Subsitusi Impor.

Raul Prebisch adalah seorang ahli ekonomi liberal, yang menjadi sekretaris eksekutif sebuah lembaga PBB yang didirikan pada tahun 1948 di Sintago de Chile. Tahun 1935 sampai 1943 sebagai seorang Presiden Direktur Bank Sentral Argentina. pada tahun 1950 menjadi Direktur ECLA. Pada tahun 1950, beliau menerbitkan karyanya yang berjudul The Economic Development of Latin America and its Principal Problem. Karya ini, yang dianggap sebagai karya pertama dari teori ketergantungan, kemudian dikenal sebagai Manifesto ECLA. Pada karya tersbut seperti yang dikutib oleh Blostrom dan Hettne menuliskan:

Di Amerika latin, kenyataan sedang mengingkari Teori Pembagian Kerja Secara Internasional yang sudah ketinggalan jaman; teori ini memang mencapai kejayaan pada abad ke-19, tetapi memang masih terus berpengaruh sampai belakangan ini. Di bawah sekema teori ini, Amerika latin mendapat tugas khusus, sebagai negara pinggiran dalam sistem perekonomian dunia, untuk memprduksi makanan dan bahan mentah bagi negara-negara industri di pusat. Tak ada tempat bagi industri-alisasi untuk negara-negara baru ini. Tetapi serangkaian peristiwa telah memaksa negara-negara ini untuk melakukan industrialisasi. Dua perang dunia dan sebuah krisis ekonomi besar di antara kedua perang tersebut, yang terjadi dalam satu generasi, telah membuka mata orang-orang Amerika latin bahwa mereka memiliki kesempatan untuk melakukan industrialisasi.

Dari pernyataan di atas, tampak jelas adanya dua pendapat yang penting. Pertama, kritiknya terhadap sistem perdagangan internasional yang bebas. Kedua, hambatan industrialisasi, dan karena itu juga hambatan terhadap pembangunan, disebabkan oleh faktor-faktor eksternal. Ini jelas berbeda dengan tesis Teori Modernisasi.

Menurut Prebisch, adanya Teori Pembagian Kerja Secara Internasional, yang didasarkan pada  Teori Keunggulan Komparatif, membuat negara-negara di dunia melkukan spesialisasi produksi dan ini mengakibatkan pembagian kelompok negara menjadi dua bagian kelompok, negara-negara pusat yang menghasilkan barang industi, dan ngara-negara pinggiran yang memproduksi hasil-hasil pertanian. Keduanya saling melakukan perdagangan, dan menurut teori diatas seharusnya negara-negara tersebut saling beruntung dan sama kaya namun kenyataannya tidak. Mengapa?
Prebisch mengatakan bahwa ini terjadi karena penurunan nilai komoditi pertanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibandingkan barang pertanian. Akibatnya terjadi Defisit pada neraca perdagangan negra pertanian apabila mereka berdagang dengan negara industri. Dan defisit ini makin lama semakin besar. Disini maka berlaku hukum engels, yang menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi makanan terhadap pendapatan menurun. Artinya, pendapatan yang naik tidak akan menaikkan konsumsimakanan, tetapi justru menaikkan konsumsi barang-barang industri. Oleh karena itu, Prebisch menyimpulkan bahwa ketebelakangan negara Amerika latin tetap berlangsung karena negara-negara ini telalu ngandalkan ekspor barang-barang primer, kesimpulan ini kemudian dikenal dengan istilah Tesis Prebisch-Singer.

Pada tahun 1950, Presbich menerbitkan karyanya yang berjudul The Economic Development of Latin America and its Principal Problems. Teori Pembagian Kerja Secara Internasional, didasarkan pada Teori Keunggulan Komparatif, membuat negara-negara di dunia melakukan spesialisasi produksinya, sehingga negara didunia terpecah menjadi dua kelompok, negara-negara pusat yang menghasilkan barang industri dan negara-negara pinggiran yang menghasilkan produksi pertanian. Menurut teori di atas, seharusnya keduanya saling beruntung dan sama-sama kaya, tetapi kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Ini dikarenakan terjadinya penurunan nilai tukar dari komoditi pertanian terhadap komoditi industri, yang akhirnya menimbulkan defisit neraca perdagangan secara terus menerus. Atas dasar analisisnya ini, Prebish berpendapat bila ingin keluar dari ketertinggalan ini, negara pinggiran harus melakukan industrialisasi yang dimulai dari industri subsitusi impor, pemerintah perlu melindungi industri yang baru tumbuh ini melalui kebijakan proteksi. Bagi Prebisch, campur tangan pemerintah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membebaskan negara-negara ini dari rantai keterbelakangannya.

2. Perdebatan tentang Imperialisme dan Kolonialisme ( Teori 3G God Glory Gold)

Pemikiran tentang imperialisasi dan kolonialisme bergumul dengan pertanyaan: mengapa bangsa-bangsa di Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasai bangsa-bangsa lainnya, baik secra politis maupun secara ekonomis. Apa yang menjadi dorongan utamanya? Ada tiga kelompok teori yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, yakni:

(1)   Kelompok teori yang menekankan idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajaran Tuhan, untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
(2)   Kelompok teori yang menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi maupun kebesaran masyarakat dan negaranya.
(3)   Kelompok teori yang menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu berusaha mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi.

Ketiga kelompok teori ini dirumuskan sebagai kelompok-kelompok teori God (Tuhan, yang melambangkan keinginan manusia untuk menyebarkan agama untuk menciptakan dunia yang lebih baik), teori Glory (kebesaran, yang melambangakan kahausan manusia akan kekuasaan), dan teori Gold (emas, yang melambangkan keserakahan manusia akan harta).
Ada tiga kelompok yang memberikan jawaban terhadap dorongan utama bagi bangsa Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasai bangsa-bangsa lain (imperialisme dan Kolonialisme), baik secara polotis maupun ekonomis adalah sebagai berikut:

a. TEORI GOD
Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa motivasi utama dari orang-orang Eropa untuk mengarungi samudra dan bertualang di negara-negara lain adalah untuk menyebarkan agama. Masyarakat yang sudah atau belum memiliki agama akan mereka perkenalkan agama mereka demi kemajuan masyarakat tersebut. Masyarakat yang belum memiliki agama dan masih memuja patung, matahari dll akan mereka tanamkan nilai-nilai agama bangsa eropa. Sehingga pola pikir masyarakat yang mengganut kepercayaan bangsa eropa akan lebih maju dalam kehidupan.

Mereka (orang-orang Eropa) ingin membaptis orang- orang yang masih dianggap bar-bar, yang masih belum mengenal tuhan meraka dan mendapatkan pahala dari agama mereka karena berhasil menyelamatkan orang lain di dunia ini dari dosannya. Begitulah pemikiran yang ada di benak-benak orang Eropa ketika itu. Karena dalam itulah kapal-kapal yang mengarungi samudara ke benua Amerika, Afrika, dan Asia, di samping membawa tentara mereka juga membawa pendeta. Bahwa misi ini kemudian berkembang menjadi dominasi politis dan ekonomis orang-orang Eropa terhadap Negara-negara yang dikunjunginya, itu adalah akibat sampingan dari pengembaraan untuk penyebaran agama ini.

b. TEORI GLORY
Teori ini menjelaskan bahwa dorongan utama dari Imperialisme dan Kolonialisme adalah bukan kepentingan agama atau ekonomi, melainkan kehausan akan kekuasaan atau kebesaran. Salah satu pencetus teori ini adalah Joseph A. Schumpeter. Dia membantah bahwa imperialisme dan kolonialisme digerakkan oleh dorongan ekonomi. Dia memberikan bukti-bukti bahwa banyak Negara Eropa sebenarnya mengalami kerugian secara ekonomis karena petualangannya menjadi imperialis dan kolonialis.

Bagi Schumpeter kapitalisme bertentangan dengan imperialisme. Kapitalisme dibangun atas dasar rasionalitas, sedangkan imperialisme tidak. Imperialisme di dorong oleh keinginan berperang, untuk membuktikan keperkasaan diri. Hal-hal ini jauh dari pikiran seorang kapitalis yang rasional. Oleh karena itu setiap perang selalu secara saksama diberi alasan sebagai perang untuk mempertahankan diri oleh semua pemerintah yang terlibat, dan oleh semua partai politik dalam pernyataan resmi mereka. Ini berarti bahwa pernyataan perang dengan alasan lain merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima secara politis.

Bagi Schumpeter, imperialisme dalam arti ekspansi (yang seringkali menggunakan kekuatan militer) ke Negara-negara lain merupakan sesuatu yang tidak rasional karena secara ekonomis seringkali tidak menguntungkan. Datangnya dorongan irasional ini Schumpeter menjelaskannya dengan Teori Atavisme yaitu Pada manusia ada instink agresif untuk menyerang dan berperang. Instink ini tumbuh subur dijaman dulu. Tentu saja instink ini dulunya berguna untuk mendapatkan sumber kehidupan, serta mempertahankan hidup seperti halnya hewan di hutan yang harus mencari makan dengan kekerasan.

Oleh perkembangan sosial dan cultural manusia, cara untuk mendapatkan sumber kehidupan dan mempertahankannya tidak lagi mengandalkan kekuatan fisik. Agresivitas dan instink untuk berperang
menjadi kurang fungsional pada masyarakat modern, dan karena itu mulai menghilang, tetapi instink ini sebenarnya tidak hilang sepenuhnya dan muncul kembali dalam bentuk-bentuk yang sudah terbungkus. Imperialism adalah manifestasi dari adanya instink agresif pada mausia. Kerena itu Schumpeter mendefinisikan imperialisme sebagai kecenderungan tanpa objek dari Negara untuk melakukan ekspansi secara tidak terbatas. Kecenderungan ini disebabkan oleh instink primitif manusia yang diwarisi dari masa lalu, yaitu instink untuk berperang. Kecenderungan ini berasal dari sebuah struktur sosial yang dikuasai oleh sekelompok ahli perang yang membutuhkan ekspansi untuk kepentingan ekspansi, perang untuk sekedar berkelahi, kemenangan sekedar untuk memenangkan, dan domonasi sekedar untuk menguasai. Oleh karena itu imperialisme pada dasarnya tanpa tujuan tertentu, dan tanpa objek. Dia hanya melayani instink yang bergejolak di dalam diri manusia.

Inilah teori atavisme, yakni instink agresif yang muncul kembali pada manusia modern, yang dipakai oleh Schumpeter untuk menjelaskan segala imperialisme dan kolonialisme. Bagi Schumpeter, imperialisme dan kolonialisme bukan dimaksudkan demi kepentingan ekonomi, tetapi kepentingan (dan kebesaran bangsa) dipakai sebagai alasan untuk menutupi dorongan yang sebenarnya.

c. TEORI GOLD
Teori ini menjelaskan imperialism dan kolonialisme melalui motivasi keuntungan ekonomi. Salah satu buku klasik tentang imperialisme yang termasuk dalam kategori ini ditulis oleh John A. Hobson, dengan judul Imperialism: A Study. Dalam karyanya yang lain , hobson menjelaskan imperialisme trjadi karena dorongan untuk mencari pasar dan investasi yang lebih menguntungkan. Imperialisme ada hubungannya dengan kapitalisme. Pada suatu saat perkembangan kapitalisme mencapai sebuah keadaan dimana prokdutivitas menjadi semakin meningkat tetapi pasar di dalam negeri terbatas. Buruh yang dibayar dengan upah rendah tidak bisa membeli kelebihan produksi yang ada. Karena itu, hasil-hasil produksi ini harus dicarikan pasar di luar negeri.

Pada titik ini juga investasi dari luar negeri menjadi kurang menguntungkan, karena pasar dalam negeri sudah jenuh. Maka modal yang ada diekspor ke luar. Modal diinvestasikan di Negara-negara lain yang pasarnya masih belum jenuh. Kedua hal inilah, yakni usaha untuk mencari pasar baru dan usaha untuk menemukan daerah investasi yang lebih menguntungkan yang mengakibatkan terjadinya imperialisme. Dengan pertolongan Negara yang menggunakan armada militernya, pasar dan investasi di luar negeri diamankan. Imperialisme menguntungkan kaum kapitalis finansial, yakni kaum kapitalis yang menguasai uang. Merekalan yang mendesak pemerintahnya untuk melakukan ekspansi kekuasaan politiknya. Jadi apakah imperialisme adalah akibat meningkatnya produktivitas industri? Apakah imperialisme merupakan akibat dari kemajuan kapitalisme itu sendiri?. Hobson mengatakan bahwa bukan kemajuan industri yang menyebabkan adanya kebutuhan untuk mencari pasar dan daerah baru untuk investasi, tetapi pendapatan pemerataan yang timpang yang mengakibatkan daya beli yang lemah, membuat kesanggupan menyerap hasil industri dan modal di dalam negeri terhambat. Karena itu, bagi Hobson cara mengatasi imperialism adalah melalui sebuah pembaharuan sosial. Tujuan utama dari pembaharuan sosial ini, dalam aspek ekonominya adalah ntuk menaikkan standar konsumsi pribadi dan konsumsi masyarakat di seluruh negeri, supaya negeri ini tetap memelihara standar konsumsi yang tinggi untuk menyerap hasil produksinya. Bagi Hobson, imperialisme bisa dicegah jika upah buruh dinaikkan , sehingga peningkatan produksi barang-barang industry bisa diserap di dalam negeri sendiri, sehingga tidak usah mencari penyalurannya ke luar.

Pendapat ini mendapat tanggapan dari V.I. Lenin di dalam bukunya yang berjudul Imperialism The Hightes Stage of Capitalism yang ditulisnya di negeri Swiss pada tahun 1916, ketika dia hidup dalam perasingan. Menurut Lenin, imperialisme merupakan puncak tertinggi dari perkembangan kapitalisme. Kapitalisme mula-mula berkembang melalui kompetisi di pasar bebas, kemudian setelah tumbuh perusahaan- perusahaan raksasa (sementara yang lemah mati) muncullah kapitalisme monopoli. Beberapa perusahaan besar praktis menguasai pasar. Unsure baru dari kapitalisme baru ini adalah berkuasanya kaum monopolis yang merupakan gabungan dari pengusaha- pengusaha yang paling besar.” Kata Lenin.

Lenin mengatakan bahwa kaum monopolis ini akan dapat bertahan kalau mereka menguasai sumber- sumber yang menghasilkan bahan mentah. Karena itulah mereka melaukan imperialisme dan kolonoalisme. Karena dengan menguasai derah yang menjadi sumber bahan mentah, kelangsungan dan perkembangan mereka lebih terjamin daripada bahan- bahan mentah itu harus mereka peroleh melaluo kompetisi di pasar bebas. Bagi Lenin, terapi yaNg ditawarka Hobson, yakni memperbaiki kondisi kehidupan buruh merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Bagi Lenin, kapitalisme hanya digerakkan oleh tujuan tunggal yaitu mencari keuntungan yang lebih banyak. Jika pilihannya supaya kapitalisme bisa hidup terus adalah antara: 1) menikkan produksi di dalam negeri, menurunkan haerga barang, dan menaikkan upah buruh ( dengan demikian mengurangi keuntungan), 2) pergi ke luar negeri dan menjajah negeri itu (dengan demikian mendapat keuntungan yang lebih besar lagi dari investasinya), jelas bahwa para kapitalisme akan memilih yang kedua.

FAKTOR PENYEBAB ADANYA TEORI  3G (GOD, GLORY, GOSPEL)

1) Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhir abad pertengahan, menimbulkan perubahan besar dan cepat (revolusi). Hal itu diperlihatkan dengan munculnya penemuan Nicolaus Copernicus dengan teori Heliosentris (berasal dari kata helios=matahari, centrum=pusat), artinya tata surya ini berpusat pada matahari. Teori heliosentris ini membantah teori lama yang bersifat geosentris (geos=bumi, centrum=pusat). Ajaran geosentris ini pada perkembangannya melahirkan suatu pandagan bahwa bumi ini datar seperti meja. Ajaran geosentris didukung dan disahkan oleh gereja sebagai salah satu ajaran resmi para penganut gereja khatolik.
Teori heliosentris dipertegas dan diperjelas oleh ilmuwan dari Italia,Galileo Galilei. Karya ciptanya berupa teleskop, yang dapat mempelajari gugusan bintang. Akan tetapi, gagasan Galileo dianggap bertentangan dengan ajaran gereja dan dinyatakan sebagai ajaran sesat.
Perkembangan pemikiran baru dari Copernicus dan Galileo di Eropa mengubah pandangan masyarakat Eropa tentang keberadaan bumi. Pemikiran Copernicus dan Galileo menyatakan bahwa bumi ini bula dan matahari sebagai pusat tata surya. Pernyataan itu mendorong orang-orang Eropa untuk mengarungi lautan mencari daerah baru.
Keinginan untuk mengarungi samudra semakin besar, ketika muncul buku karangan Marco Polo yang berjudul "Imago Mundi" (Citra Dunia) dan"Il Milline" (Sejuta Keajaiban). Pada kedua buku ini dijelaskan tentang kekayaan yang melimpah di negeri timur (Cina dan Jepang). Kekayaan itu berupa emas, perak, dan sutra. Kisah dalam buku Marcopolo itu memberikan dorongan bagi para pelaut Eropa untuk mengarungi samudra.

2) Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan faktor paling kuat yang mendorong bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra. Sebelum menemukan daerah pusat rempah-rempah, bangsa Eropa hanya mendapatkan hasil dagangan di pusat-pusat perdagangan Asia Barat. Barang dagangan yang diperoleh berasal dari India, Cina, Jepang, dan Asia Tenggara. Keuntungan yang diperoleh oleh bangsa Eropa dengan membeli barang dagangan dari pelabuhan Asia Barat sangat sedikit. Apalagi para pedagang Asia Barat menjual barang dagangan dengan harga yang mahal. Karena itu orang-orang Eropa berkeinginan mencari barang dagangan dari pusatnya. Dengan begitu, mereka berharap memiliki keuntungan yang berlipat ganda.

3) Politik
Faktor berikutnya yang mendorong bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra adalah peristiwa jatuhnya Konstantinopel ke tangan penguasa Turki Usmania tahun1453. Peristiwa ini menyebabkan orang-orang Eropa tidak mau berdagang di wilayah perdagangan Asia Barat. Akibatnya, perdagangan antara dunia timur dan barat terputus.
Perkembangan berikutnya, bangsa Eropa mencari arah lain untuk menuju dunia timur. Keadaan ini menimbulkan gerakan pelayaran dan penjelajahan samudra secara besar-besaran.
4) Idealisme
• Keberhasilan para pelaut Portugis dan Spanyol merintis jalan laut menuju Nusantara, mendorong gelombang pelayaran berikutnya. Tidak hanya ekspedisi dari Portugis dan Spanyol, meliainkan juga dari Inggris dan Belanda. Bangsa Eropa yang datang ke dunia timur pun pada dasarnya dilatarbelakangi oleh beberapa faktor idealisme, dan merupakan tujuan utama mereka. Tujuan mereka sama yaitu Gold, Glory, danGospel.
• Gold secara harfiah berarti emas. Namun selain emas, orang-orang Eropa secara khusus mencari rempah-rempah, yang merupakan sumber kekayaan yang sangat penting dan laku dipasaran Eropa. Hasil pertanian ini mereka perlukan untuk obat-obatan dan penyedap serta pengawet makanan. Terlebih setelah terjadi Perang Salib, orang-orang Eropa lebih terdorong untuk mendapatkan sumber kekayaan itu langsung dari tempat asalnya.
• Selain bermotifkan Gold, para penjelajah Eropa pun mengharapkan Glory, otau kejayaan. Hampir setiap orang ingin berjaya. Hanya anak kecil, orang tua yang pikun dan orang gila yang tidak memikirkan kejayaan. Bukan orang Eropa saja yang mengejar kejayaan di Nusantara. Bahkan kata "Nusantara" merupakan lambang kejayaan Majapahit yang berhasil menundukan kerajaan-kerajaan yang lemah. Setelahmendapatkan daerah rempah-rempah, bangsa-bangsa Eropa mempunyai idealisme penguasaan daerah tersebut guna mencapai kejayaan.
• Idealisme terakhir dari para penjelajah Eropa adalah menyebarkan agama Nasrani (gospel). Salah seorang tokoh penyebar agama Nasrani di Indonesia bagian timur, seperti di Makassar, Ambon, Ternate, dan Morotai adalah Franciscus Xaverius atau Santo Francis Xavier (1506-1552). Xaverius bersama Santo Ingatius de Loyola mendirikan Ordo Yesuit.


3. Teori Paul Baran : Sentuhan yang Mematikan dan Kretinisme

Paul Baran adalah seorang pemikir Marxis yang menolak pandangan Marx tentang pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Bila Marx mengatakan bahwa sentuhan negara-negara kapitalis maju kepada negara-negara pra-kapitalis yang terbelakang akan membangunkan negara-negara yang terakhir ini untuk berkembang seperti negara-negara kapitalis di Eropa, Baran berpendapat lain. Baginya, sentuhan ini akan mengakibatkan negara pra-kapitalis tersebut bertambah kemajuannya dan akan terus hidup dalam keterbelakangan. Pandangan atau teori Baran ini dituangkannya dalam bukunya yang tekenal, The Political Economy of Growth, sebuah study tentang dampak kolonialisme di india yang diterbitka oada tahun 1957.

      Dengan pendapatnya ini, berbeda dengan Marx, Baran menyatakan bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di negra-negara pusat. Di negara pinggiran, sistem kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme. Orang yang dihinggapi penyakit ini tetep kerdil dan tidak bisa besar.

      Mengapa negara-negara yang menjadi korban imperialisme tidak bisa mengembangkan dirinya, berbeda dengan kapitalisme yang menggejala di negara-negara pusat dulu? Menurut Baran kapitalisme di negara-negara pusat bisa berkembang karena adanya tiga faktor atau prasyarat:

(1)   Meningkatnya produksi diikuti dengan tercabutnya masyarakat petani dari pedesaan.
(2)   meningkatnya produksi komoditi dan terjadinya pembagian kerja mengakibatkan sebagian orang menjadi buruh, dan yang lainnya menjadi majikan.
(3)   Mengumpulnya harta di tangan para pedagang dan tuan tanah.

Faktor ketiga itulah yang membuat kapitalisme dimungkinkan di Eropa. Surplus yang ada di tangan para pedagang dan tuan tanah kemudian diinvestasikan ke bidang industri. Sementara yang terjadi di negara-negara pinggiran sebaliknya.

Pada bagian ini dibahas teori-teori yang merupakan pendahuluan bagi munculnya Teori Ketergantungan. Teori Ketergantungan memakai pendekatan struktural. Karena itu, teori itu dapat digolngkan kedalam kelompok Teori Struktural.

Teori Struktural sendiri memang berpangkal pada filsafat yang dikembangkan oleh Karl Marx. Teori ini membantah tesis Marx yang menyatakan bahwa kapitalisme akan menjadi cara produksi tunggal, dan menciptakan proses maupun struktur masyarakat yang sama di semua negara yang ada di dunia ini. Seperti yang diuraikan mula-mula oleh Prebisch, kemudian oleh Baran, kapitalisme yang berkembang di negara-negara yang menjadi korban imperialisme, tidak sama dengan perkembangan kapitalisme dari negara-negara imperialis yang menyentuhnya. Kapitalisme di negara pinggiran merupakan kapitalisme yang sakit, yang sulit berkembang. Dia mempunyai dinamika yang berlainan. Karena itu, dia harus dipelajari dirinya sendiri, sebagai sesuatu yang unik. Kalau kita hanya menerapkan saja teori-teori dan konsep-konsep yang berlaku di negara-negara kapitalis pusat, mungkin kita tidak pernah dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang dinamika dan proses kapitalisme pinggiran ini.

Pendapat Marx yang menyatakan bahwa negara-negara pra-kapitalis di Asia adalah seperti seorang puteri cantik yang masih tidur, yang sedang menunggu ciuman seorang pangeran tampan untuk membangunkannya, memang ada benarnya. Pangeran tampan ini adalah negara-negara kapitalis industrial yang sudah maju. Ciumannya adalah imperialisme. Setelah dicium, si putri cantik memang terbangun. Tetapi Marx rupanya tidak sampai mengira bahwa hidup sang putri yang sudah bangun ini selalu dalam keadaan tidak sehat, karena ciumannya beracun.

Teori Ketergantungan menyatakan bahwa (1) negara-negara pinggiran yang pra kapitalis mempunyai dinamika sendiri yang bila tidak disentuh oleh negara-negara kapitalis maju akan berkembang secara mandiri, dan (2) justru karena sentuhan negara-negara kapitalis maju ini, perkembangan negara-negara pinggiran menjadi terhambat. Dengan demikian, menurut Teori Ketergantungan, keterbelakangan yang terjadi di negara-negara pinggiran disebabkan oleh adanya sentuhan ini (faktor eksternal).

Tokoh Teori Ketergantungan Klasik

1. Teori Andre Gunder Frank : Pembangunan dan Keterbelakangan

Andre Gunder Frank adalah seorang ekonom Amerika yang menjadi murid Raul Presbich. Frank sepakat dengan hasil penelitian Presbich yang menyimpulkan bahwa hubungan negara pusat dan negara pinggiran (yang selanjutnya oleh Frank disebut negara satelit) adalah hubungan yang tidak sehat. Frank meyakini bahwa keterbelakangan yang terjadi di negara satelit bukanlah proses alamiah, melainkan akibat langsung dari kapitalisme negara pusat (yang selanjutnya oleh Frank disebut negara metropolis). Agak berbeda dengan Presbich yang membicarakan teori ketergantungan dari perspektif ekonomi (ketimpangan nilai tukar), Frank lebih menyoroti aspek-aspek politis dari interaksi ekonomi di negara satelit.

Pada teori Frank terdapat tiga komponen utama, yaitu:

1. Modal Asing
2. Pemerintah Lokal
3. Borjuasi Lokal (Yang oleh Baran disebut klas Tuan Tanah dan Pedagang)

Pembangunan di negara satelit hanya terjadi dalam lingkaran ketiga komponen di atas. Rakyat banyak yang hanya menjadi buruh dirugikan. Dengan adanya ketiga komponen di atas, maka dapat dilihat bagaimana ciri-ciri dari perkembangan kapitalisme di negara satelit.

1. Kehidupan Ekonomi yang tergantung (seperti yang telah diungkapkan Baran sebelumnya, yakni ketergantungan terhadap barang impor).
2. Terjadinya kerjasama antara modal asing, pemerintah lokal, dan borjuasi lokal yang bersifat eksploitaitif terhadap rakyat banyak.
3. Terjadinya ketimpangan antara si kaya dan si miskin.

Melihat kenyataan ini, Frank menolak teori Marxis mengenai tahapan masyarakat. Menurut Frank, di negara satelit tidak akan pernah terwujud masyarakat kapitalis yang utuh, sebab kapitalisme yang ada di negara satelit bukanlah kapitalisme alamiah, melainkan kapitalisme berpenyakit yang menghisap kekayaan negara-negara satelit. Oleh karena itu Frank menawarkan bentuk Revolusi yang langsung menuju masyarakat sosialis. Bagi Frank, tahapan masyarakat kapitalis di negara satelit tidak dapat terwujud karena pengaruh atau campur tangan kapitalisme asing sudah terlalu kuat.

2. Teori Theotonio Dos Santos : Struktur Ketergantungan

Walaupun sama-sama penganut teori ketergantungan, Theotonio Dos Santos tidak sepenuhnya sepakat dengan pendapat Frank. Dos Santos sepakat dengan ide negara metropolis dan negara satelit yang hanya menjadi bayangan dari negara metropolis. Akan tetapi Dos Santos berpendapat bahwa negara satelit pun dapat berkembang, walaupun perkembangan itu masih bergantung ke negara metropolis. Simak definisi ketergantungan menurut Dos Santos:


Yang dimaksud dengan ketergantungan adalah keadaan di mana kehidupan ekonomi negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, di mana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Hubungan saling tergantung antara dua sistem ekonomi atau lebih, dan hubungan antara sistem-sistem ekonomi ini dengan perdagangan dunia, menjadi hubungan ketergantungan bila ekonomi beberapa negara (yang dominan) bisa berekspansi dan bisa berdiri sendiri, sedangkan ekonomi negara-negara lainnya (yang tergantung) mengalami perubahan hanya sebagai akibat dari ekspansi tersebut, baik positif maupun negatif.[18]

Sumbangan Dos Santos yang lainnya adalah uraian yang lebih rinci mengenai bentuk-bentuk ketergantungan, yakni:

Ketergantungan Kolonial, selain mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk diekspor ke negara asal kolonialis, ketergantungan ini pun mendominasi secara politik, sosial, dan budaya. Ketergantungan ini merupakan bentuk penjajahan secara langsung. Penduduk setempat tidak memiliki kemerdekaan untuk menentukan keinginannya. Bahkan para kolonialis tersebut mengklaim bahwa daerah jajahan tersebut merupakan hak miliknya.
Ketergantungan finansial-industrial, walaupun negara satelit secara politis telah merdeka, namun kegiatan ekspor bahan mentah (SDA) untuk negara metropolis masih tetap berlangsung. Ekonomi negara satelit masih dikendalikan oleh kekuatan finansial dan industrial yang kuat dari negara-negara metropolis.
Ketergantungan teknologis-industrial, ini merupakan bentuk ketergantungan terbaru. Kegiatan ekonomi di negara satelit tidak lagi ekspor bahan mentah, namun industri yang ada di negara metropolislah yang dipindahkan ke negara satelit. Hal ini semata-semata dilakukan demi efisiensi bisnis. Biaya distribusi menjadi lebih murah, harga buruh sangat murah, serta pangsa pasar yang melimpah di negara satelit itu sendiri.


3. Samir Amin : Kapitalisme Pinggiran

Kapitalisme pinggiran berbeda dengan kapitalisme pusat dengan ciri mengarah pada elspor, hipertropi pada sektor tersier, bercorak sosial kapitalis.

Bantahan Teori Ketergantungan : Industrialisasi di Negara Pinggiran

Bill warren menunjukkan bahwa proses industrialisasi memungkinkan pertumbuhan ekonomi di Dunia Ketiga. Pendapat Warren mendapat dukungan dari Fernado Henrique Cardoso dan Peter Evans dimana mereka meyakini bahwa pembangunan dan industrialisasi memang terjadi di negara pinggiran. Pada akhirnya melahirkan apa yang disebut oleh Peter Evans sebagai Aliansi Tripel, yaitu kerjasama antara: (1) Modal asing, (2) pemerintah di negara pinggiran yang bersangkutan, dan (3) borjuasi lokal. Modal asing, melalui perusahaan-perusahaan multinasional raksasa, melakukan investasi di negara pinggiran tersebut.

Kritik Terhadap Teori Ketergantungan :

1. Kritik Packenham

Salah satu kritik menarik dari kelompok teori liberal datang dari Robert A. Packenham. Menurutnya disamping kekuatan, Teori Ketergantungan juga mempunyai kelemahan yaitu hanya menyalahkan kapitalisme sebagai penyebab ketergantungan. Tidak mendefinisikan secara jelas tentang konsep ketergantungan. Pembicaraan tentang proses sebuah Negara bisa keluar dari ketergantungan sedikit sekali, bahkan Frank hanya menawarkan Revolusi Sosialis sebagi jalan keluarnya. Ketergantungan selalu dianggap sebagai sesuatu yang negative, Teori Ketergantungan sangat menekankan konsep kepentingan kelompok, kelas dan Negara. Kepentingan antara Negara pusat dan Negara pinggiran tidak selalu bersifat zero-sum game (bila satu menang maka lainnya kalah) karena bisa saja keduanya mendapat keuntungan.

2. Penelitian Chase Dunn

Christopher Chase Dunn menganggap investasi modal asing dan utang tidak selalu berakibat negatif pada pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pada pemerataan pendapatan, investasi tersebut dapat juga positif bagi ekonomi negara pinggiran, dalam arti Modal asing langsung memproduksi barang dan menimbulkan permintaan barang-barang lain yang dibutuhkan bagi produksi; Utang luar negeri membiayai pembangunan sarana yang dibutuhkan untuk pembangunan; dan Transfer teknologi, perbaikan kebiasaan kerja, modernisasi organisasi

3. Komentar Cardoso

Usaha untuk mengerti terjadinya keterbelakangan itu dituangkan dalam analisis yang bersifat kualitatif, karena banyak persoalan yang tidak bisa dikuantifikasikan. Cardoso membalas kritik Packenham yang dianggap mau memformalkan Teori ketergantungan menjadi seperangkap konsep yang bisa diukur dan bersifat a-historis, seakan-akan konsep ini bisa berlaku dalam segala situasi dan kapan saja. Cardoso mengkritik Chase Dunn dalam usahanya mengkuantifikasikan konsep-konsep masalah ketergantungan dan menyalahkan Frank, yang mereduksikan masalah ketergantungan menjadi dikotomi antara kekuatan imperialis negara-negara maju dengan negara-negara yang terkebelakang.

Teori dependensi baru adalah teori yang muncul akibat adanya kritik terhadap teori dependensi. Beberapa tokoh yang termasuk dalam teori dependensi baru diantaranya; Fernando Henrique Cardoso, Thomas B Gold, Hagen Koo, dan Mohtar mas’oed.

Tanggapan Teori Dependensi : Rumusan Cardoso

Menurut cardoso, terdapat tiga rumusan dalam teori “ketergantungan”. Yaitu pertama, metode historis struktural. Kedua, adanya pengaruh faktor ekstern dan faktor intern yang menjadi penyebab ketergantungan dan keterbelakangan. Dari sisi intern, fokus pada masalah ekonomi, sosial dan politik. Persoalan pembangunan yang ada di dunia tidak dapat dibatasi hanya pada industri substitusi impor, strategi pertumbuhan, orientasi ekspor atau tidak, pasar domestik atau dunia. Namun justru pada ada atau tidaknya gerakan kerakyatan dan kesadaran kepentingan politik rakyat. Dalam faktor ekstern, dominansi ekstern akan mewujud sebagai kekuatan intern. Ketiga, adanya kemungkinan bahwa pembangunan dan ketergantungan mewujud secara bersama yang memunculkan ketergantungan yang lebih dinamis.

Pada sisi yang lain, menurut cardoso terdapat beberapa dampak negatif dari teori dependensi, yaitu timpanganya distribusi pendapatan dan ketimpangan ekonomi lainnya. Orientasi pembangunan ekonomi pada barang-barang yang tahan  lama yang tidak diperuntukkan rakyat banyak, akan menambah hutang luar negeri. Disamping itu, teknologi yang diterapkan pada dunia ketiga adalah teknologi yang padat modal, bukan padat karya. Hal ini akan menyebabkan ketimpangan, karena tidak menjadikan tumbuhnya sektor barang-barang modal

Thomas B Gold : Pembangunan dan ketergantungan Dinamis di taiwan

Pendapat gold tentang dependensi baru menitikberatkan pada keajaiban pembangunan politik-ekonomi di Taiwan yang dulunya tergolong sebagai negara pinggiran, telah mampu mencapai pertumbuhan ekonomi dan kesentosaan politik yang lebih dari sekedar memadai. Dengan bantuan dari Amerika Serikat, KMT di Taiwan mengubah dirinya menjadi NBO (Negara Birokratik Otoriter). Industrialisasi merupakan program reformasi yang dilakukan untuk meningkatkan ekonomi. Gold menyimpulkan, bahwa jika negara dunia ketiga mampu secara selektif, hati-hati dan terencana membangun hubungan dengan tata ekonomi kapitalis dunia, maka tidak selalu menghasilkan keterbelakangan dan ketergantungan.

Hagen Koo: Interaksi antara Sistem Dunia, Negara dan Kelas di Korea

Koo mencoba melihat pembangunan di Korea selatan dalam kontek yang terus menerus antar negara, kelas sosial dan sistem dunia serta pengaruh dari tiga unsur tersebut secara komulatif dan bersamaan.

Mohtar Mas’oed: Negara Birokarasi Otoriter di indonesia

Negara Birokrasi Otokratik mempunyai beberapa cirti dan karakter diantaranya; Posisi puncak pemerintahan biasanya dipegang oleh organisasi militer, pemerintah atau pengusaha; Terdapat pembatasan partisipasi politik yang ketat (political exclusion); Terdapat pembatasan yang ketat dalam partisipasi ekonomi (economic exclusion); Terdapat depolitisasi dan demobilisasi masa. Secara ringkas, NBO dicirikan oleh adanya peran dominan para birokrat, khususnya militer yang melahirkan kebijaksanaan pembatasan partisipasi politik dan ekonomi serta muncul kebijaksanaan depolitisasi dan demobilisasi.

Di Indonesia NBO lahir dikarenakan karena beberapa sebab, pertama adanya warisan krisis ekonomi dan politik yang terjadi pada tahun 1960-an. Pengaruh Soekarno masih dianggap mempunyai pengaruh yang kuat dan masih mempunyai pendukung yang tidak sedikit. Kedua adanya koalisi intern orde baru yang memaksa untuk segera melakukan restrukturisasi ekonomi secara radikal. Ketiga adanya orientasi ke luar yang dirumuskan oleh orde baru.

Saat itu pendalaman industrialisasi, kebijaksanaan integrasi vertikal belum terjadi , Indonesia cenderumg masih dalam tahap awal pemulihan dari kehancuran, sehingga Mas’oed menyimpulkan untuk kasus indonesia lahirnya NBO lebih disebabkan karena faktor krisis politik. NBO di Indonesia mempunyai beberapa karakteristik yaitu;

1. Pemerintah orde baru berada di bawah kendali militer secara organisatoris yang bekerjasama dengan teknokrat sipil.

2. Modal domestik swasta besar yang memiliki hubungan khusus dengan negara, dan modal internasional memiliki peran ekonomis yang sangat menentukan.

3. Hampir seluruh bentuk kebijaksanaan dari perencanaan sampai evaluasi sepenuhnya berada ditangan birokrat dan teknokrat.

4. Adanya kebijakan demobilisasi masa dalam bentuk kebijakan masa mengambang.

5. Dalam menghadapi penentangnya, orde baru tidak segan-segan melakukan tindakan tegas.

6. Besarnya otonomi dan peran kantor kepresidenan yang diwujudkan dengan sangat luanya wewenang kantor sekretariat negara, ini merupakan ciri khusus untuk indonesia.

Kesimpulan

- Teori dependensi baru memberikan perhatian pada kemungkinan munculnya ciri ketergantungan yang unik dan khas secara historis seperti yang terjadi di Korea, taiwan dan Indonesia.

- Dengan perspektif dependensi baru negara dunia ketiga tidak lagi dipandang sebagai negara yang bergantung pada asing, tetapi sebagai aktor yang aktif yang secara cerdik berusaha untuk bekerjasana dengan modal domestik dan modal internasional.

- Jika negara dunia ketiga mampu secara selektif, hati-hati dan terencana membangun hubungan dengan tata ekonomi kapitalis dunia, maka akan bisa membebaskan dari keterbelakangan dan ketergantungan.

Daftar Pustaka :

Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Budiman, Arif (terj.) Frank, Andre Gunder. 1984. Sosiologi Pembangunan Dan Keterbelakangan Sosiologi, Jakarta: Pustaka Pusat.

Leo Agustino, Ekonomi Politik Pembangunan (Bandung: Dialog Press, 2000),


Martin Wolf, Martin Wolf, Why Globalization Works (Yale: Yale University Press, 2004).

Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001).

Hira Jhamtani, WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga (Yogyakarta: Insist Press, 2005).

Mansour Fakih,Bebas dari Neoliberalisme (Yogyakarta: Insist Press, 2003).

Monday, January 12, 2015

Komunukasi Organisasi dan Kelompok : Persiapan komunikasi kelompok dan Anggota dan Pemimpin dalam Kelompok

Komunukasi Organisasi dan Kelompok
Persiapan komunikasi kelompok dan Anggota dan Pemimpin dalam Kelompok


Penulis : Adianto Saputra (1316031002)
Ahmad Roihan (1316031004)
Azka Faza Esa (1316031012)
Kicky Adhityawan (1346031038)

Mata Kuliah : Komunikasi Organisasi dan Kelompok



JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2014


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “Komunikasi Komunikasi Organisasi dan Kelompok”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Komunikasi Organisasi dan Kelompok di program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas lampung.  Makalah ini disusun untuk memperdalam tentang Komunikasi Kelompok dan Organisasi.

Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Bandarlampung,  25 November 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN COVER  ..........................................................................................  i
KATA PENGANTAR..........................................................................................  ii
DAFTAR ISI  ......................................................................................................  iii
BAB I: PENDAHULUAN  .................................................................................  1
A. Latar Belakang Masalah  ...................................................................  1
B.  Rumusan Masalah  ............................................................................  1
C.  Tujuan Pembahasan............................................................................  2
BAB II: PEMBAHASAN  ............ .......................................................................  3
A. Persiapan komunikasi kelompok.....................................................  3
B. Anggota dan Pemimpin dalam  Komunikasi Kelompok.................  8
C. Komunikasi Organisasi..................................................................  12
BAB III: KESIMPULAN  ..................................................................................  17
DAFTAR PUSTAKA  ........................................................................................  19


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Di dalam makalah ini mencakup komunikasi kelompok dan organisasi. Komunikasi kelompok merupakan interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Sedangkan komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Dan masih banyak yang lain yang berhubungan dengan komunikasi kelompok dan organisasi
Kelompok dan organisasi merupakan struktur, yang dapat diinterpretasikan sebagai aturan-aturan dan sumber daya organisasi. Struktur-struktur ini sebagai gantinya, menciptakan sistem sosial di dalam organisasi. . Maka dari itu di dalam makalah ini membahas lebih mendalam tentang komunikasi kelompok dan organisasi diantaranya membahas tentang persiapan komunikasi kelompok , anggota dan pemimpin dalam kelompo, dan komunikasi organisasi dari buku milik dari buku  Joseph Devito.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah kami ungkapkan di atas, maka rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Apa yang dimaksud persiapan komunikasi kelompok.
2) Apa yang dimaksud anggota dan pemimpin dalam komunikasi.
3) Bagaimana proses komunikasi organisasi.
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah komunikasi kelompok dan organisasi adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui arti pentingnya persiapan komunikasi kelompok.
2) Untuk menambah wawasan pembaca mengenai anggota dan pemimpin dalam kelompok.
3) Untuk mengetahui bagaimana teori-teori komunikasi organisasi diaplikasikan dalam menganalisis kehidupan sehari-hari
4) Untuk memberikan media pembelajaran kepada khalayak tentang komunikasi organisasi.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Persiapan komunikasi kelompok
Kita semua merupakan anggota dari berbagai kelompok kecil. Contoh kecil adalah keluarga. Beberapa dari komunikasi yang secara pribadi paling penting dan paling memuasan terjadi pada kelompok kecil. Pada unit ini membahas akan sifat dasar kelompok kecil dan mengindentifikasi karakteristiknya. Kemudian sifat dari karakteristik kita pakai sebagai dasar untuk empat jenis pokok kelompok kecil dan prosedur yang diikuti para peserta kelompok.

Beberapa dari komunikasi yang secara pribadi paling penting dan paling memuaskan terjadi di dalam kelompok kecil. Sifat dasar dan karakteristik ini kemudian kita pakai sebagai dasar untuk mempelajari empat jenis pokok kelompok kecil dan prosedur yang diikuti para peserta kelompok.

Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hampir semua aspek kehidupan. Bisa merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan bisa pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah).

KELOMPOK KECIL
Sekumpulan perorangan relatif kecil yang masing – masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka.
- Kelompok kecil merupakan sekumpulan perorangan, cumlahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim ataupun penerima.
- Para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama yang lain dengan beberapa cara.
- Diantara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama.
- Para anggota kelompok harus dihubungkan oleh beberapa aturan dan struktur organisasi.

Beberapa Norma Kelompok Kecil
Kadang ada norma atau aturan yang diberlakukan dalam kelompok kecil, norma dan aturan ini biasanya dinyatakan secara explisit dan biasanya hanya bersifat implisit. Terlepas dari itu semua peraturan ini merupakan kekuatan yang mengatur perilaku para anggotanya. Beberapa norma mengatur perilaku kelompok secara keseluruhan: semua anggota keluarga harus berkontribusi membantu anggota keluarga yang mengalami kesulitan; kelompok akan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Menurut Napier dan Gershenfeld (1987) para anggota kelompok akan menerima norma tersebut apabila:
- Anggota menginginkan keanggotaan yang kontinue dalam kelompok
- Pentingnya keanggotaan kelompok seseorang semakin tinggi
- Kelompok bersifat kohesif dan para anggota berhubungan secara erat, terikat satu sama lain, dan saling tergantung satu sama lain, dan kelompok memenuhi kebutuhan mereka.
- Pelanggaran norma dihukum dengan reaksi yang negatif atau dikucilkan dari kelompok.

KELOMPOK PEMECAH MASALAH
Sekumpulan individu yang bertemu untuk memecahkan suatu masalah tertentu atau untuk mencapai suatu keputusan mengenai beberapa masalah tertentu. Kita akan mengupas kelompok semacam ini dari segi pendekatan pemecahan masalah yang klasik dan masih populer.

KELOMPOK NOMINAL
Kelompok nominal dapat diuraikan dengan cara mengikuti prosedurnya ketika berhadapan dengan masalah spesifik (Huseman, 1977). Mengurutkan beberapa peringkat masalah penting dengan cara mengumpulkan kontribusi para anggotanya dan memprioritaskannya tanpa evaluasi atau diskusi.

Salah satu kelemahan dari pendekatan ini adalah bahwa para anggota tidak memperoleh manfaat dari stimulasi para anggota lainnya. Keuntungannya adalah bahwa sifat keterbukaan dan kepercayaan lebih besar dengan hambatan yang paling minimum, oleh karena daftarnya dibuat secara pribadi. Oleh karena kritik dan evaluasi ditunda, maka semua segi dari pemasalahannya segera dapat diidentifikasi.

KELOMPOK PENGEMBANGAN IDE
Banyak kelompok kecil dibentuk semata-mata hanya untuk mengembangkan ide. Kelompok yang melakukan Sumbang saran yang merupakan teknik untuk menyelesaikan suatu masalah denang cara memunculkan gagasan sebanyak mungkin. Dalam hal ini sumbang saran sering dipakai (Osborn, 1957). Sumbang saran merupakan satu teknik untuk memecahkan masalah dengan cara memunculkan gagasan sebanyak mungkin. Dalam sistem ini, prosesnya terdiri dari dua tahap. Pertama adalah periode sumbang saran dan yang kedua adalah periode evaluasi.

KELOMPOK PENGEMBANGAN PRIBADI
Yang berusaha membantu para anggotanya untuk menyelesaikan masalah tertentu, seperti kecanduan alcohol, mempunyai orangtua peminum, atau mantan narapidana. Kelompok pengembangan pribadi yang lain bersifat lebih terapis dan dirancang untuk mengubah aspek kepribadian atau perilaku secara mendasar.
Beberapa kelompok pengembangan pribadi yang populer:
- Kelompok tatap muka
- Kelompok pelatihan asertik
- Kelompok peningkat kesadaran

KELOMPOK PENDIDIKAN ATAU BELAJAR
Tujuannya untuk memperoleh informasi baru atau keterampilan baru melalui pertukaran pengetahuan. Dalam kebanyakan kelompok kecil, semua anggota memiliki sesuatu untuk diajarkan dan sesuatu untuk dipelajari. Para anggota mengumpulkan semua pengetahuan mereka dan mereka semua akan memperoleh manfaatnya.
FORMAT KELOMPOK KECIL
Kelompok kecil melakukan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel atau meja bundar, seminar, symposium, dan symposium – forum.

Panel atau meja bundar. Dalam format panel atau meja bundar, anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar. Mereka berbagi informasi atau memecahkan permasalahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka berbicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasakan layak untuk itu.

Seminar. Dalam seminar,  anggota kelompok adalah “para pakar” dan berpatisipasi  dalam format panel atau meja bundar. Perbedaannya adalah dalam seminar terdapat peserta yang anggotanya diminta untuk berkontribusi. Mereka ini bisa diminta untuk menhajukan pertanyaan atau memberikan beberapa umpan balik.

Modifikasi lain dari seminar adalah format seminar dua – panel, yang terdiri dari panel pakar dan panel awam. Panel awam mendiskusikan topik, tetapi jika mereka memerlukan informasi teknis, tambahan data, atau pengarahan, mereka akan meminta bantuan kada anggota panel pakar untuk memberikan informasi yang diperlukan.

Simposium. Dalam simposium, setiap anggota menyajikan presentasi yang telah disiapkan, seperti halnya pidato didepan umum. Semua pembicara menilik dari aspek yang berbeda mengenai satu topik. Dalam simposium, pemimpin akan memperkenalkan para pembicara, mengatur alur dari satu pembicara ke pembicara lain, dan bisa menyampaikan ringkasannya secara berkala.

Simposium – Forum. Simposium – forum terdiri dari dua bagian: simposium, dengan pembicara yang sudah disiapkan, dan forum, yang mempersilahkan para hadirin untuk mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh pembicara. Pimpinan akan memperkenalkan para pembicara dan menjadi moderator dalam acara tanya jawab.

B. Anggota dan Pemimpin dalam Kelompok
1. ANGGOTA DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK KECIL
Menurut Kenneth Benne dan Paul Sheats (1948) ada 3 klasifikasi kelas umum:
PERAN ANGGOTA
1. Peran Tugas Kelompok
Peran tugas kelompok adalah peran yang membuat kelompok mampu untuk memfokuskan secara lebih spesifik dalam mencapai tujuan kelompok. Kedua belas peran kelompok yang spesifik diuraikan pada tabel berikut.

Tabel Peran Tugas Kelompok

2. Peran Membina dan Mempertahankan Kelompok
Peran membina dan Mempertahankan Kelompok, Kelompok merupakan satu unit yang para anggotanya memiliki hubungan interpersonal yang beragam. Kelompok dan para anggotanya memerlukan dukungan interpersonal yang sama sesuai yang dibutuhkan anggotanya. Peran Pembina dan mempertahankan kelompok merupakan fungsi untuk mendukung hal ini. Membina dan mempertahankan kelompok dibagi menjadi tujuh peran spesifik

Tabel Membina dan Mempertahankan Kelompok

3. Peran Individual
Peran ini menghambat kelompok dalam mencapai tujuannya dan lebih berorientasi pada individu daripada kelompok. Peran semacam ini sering diistilahkan dengan malfungsi, yang menghambat efektifitas kelompok baik dalam produktivitas maupun kepuasan pribadi. Ada delapan jenis spsifik yang termasuk dalam peran semacam ini.

Tabel Peran Individual

ANALISIS PROSES INTERAKSI
Pada sistem ini menganalisis kontribusi para anggota kelompok kedalam empat ketegori umum:
1) Kontribusi positif sosial-emosional
2) Kontibusi negatif sosial-emosional
3) Jawaban percobaan
4) Pertanyaan

Partisipasi Anggota
1) Berorientasilah pada kelompok
2) Pusatkan konflik pada kmasalahnya
3) Bersikaplah tanpa prasangka secara kritis
4) Pastikan pemahaman

Pikir Kelompok
Pikir kelompok menurut Janis merupakan “modus berfikir seseorang yang terlibat dalam pencarian, persetujuan menjadi begitu dominan di dalam suatu kelompok kohesif yang cenderung untuk melampaui penilaian realistis atau suatu alternatif tindakan”. Istilahnya sendiri dimaksudkan untuk memberi syarat mengenai “kerusakan dalam efisiensi mental, pengujian realitas, dan pertimbangan moral sebagai akibat adanya tekanan kelompok.

PEMIMPIN DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK KECIL

Dalam kebanyakan kelompok kecil, satu orang berperan sebagai pemimpin. Dalam kelompok lain, kepemimpinan bisa dipegang oleh beberapa orang. Lebih lanjut, sang pemimpin bisa ditunjuk atau secara otomatis muncul dalam proses perkembangan komunikasi.

Gaya Kepemimpinan
Sebagai tambahan untuk melihat perhatian pokok dalam kepemimpinan, seperti yang kita lakukan dengan teori kepemimpinan situasional, kita dapat juga melihat kepemimpinan dari tiga gaya kepemimpinan: lepas kendali, demokratis, dan otoriter (Bennis & Nanus, 1985; Shaw, 1981).

• Pemimpin lepas kendali. Pemimpin lepas kendali tidak berinisiatif untuk mengarahkan atau menyarankan alternatif tindakan. Akan tetapi, pemimpin ini lebih mengizinkan kelompok untuk mengembangkan dan melaksanakan sendiri pekerjaannya, bahkan termasuk juga mengizinkan untuk melakukan kesalahan. Pemimpin semacam ini menolak setiap wewenang yang diberikan.
• Pemimpin Demokratis. Pemimpin demokratis memberikan pengarahan, tetapi mengizinkan kelompok untuk mengenmabngkan dan melaksanakan cara yang dikehendaki para anggotanya. Para anggota kelompok didorong untuk menentukan saran dan prosedur. Pemimpin demokratis merangsang timbulnya pengarahan sendiri dan aktualisasi diri pada para anggota kelompok.
• Pemimpin otoriter. Pemimpin otoriter merupakan kebalikan dari pemimpin lepas kendali. Pemimpin semacam ini menentukan kebijakan kelompok atau membuat keputusan tanpa berkonsultasi atau memastikan persetujuan dari para anggotanya. Pemimpin ini bersifat impersonal. Komunikasi mengalir dari pemimpin ke pemimpin, tetapi jarang mengalir dari anggota ke anggota. Pemimpin otoriter berusaha untuk meminumumkan komunikasi antarkelompok, sehingga membuat peran pemimpin menjadi lebih penting.

Diantara fungsi – fungsi tugas pemimpin adalah mengaktifkan interaksi kelompok, mempertahankan interaksi yang efektif, mempertahankan agar para anggota tetap pada jalurnya, memastikan kepuasan anggota, mendorong terjadinya evaluasi dan perbaikan, dan menyiapkan para anggota untuk siap berdiskusi. Pemimpin yang efektif menilai orang, mendengarkan secara aktif, bersikap bijaksana, memberi peghargaan, bersikap konsisten, mengakui kesalahan, memiliki rasa humor, dan memberikan contoh yang baik.


C. KOMUNIKASI ORGANISASI

BEBERAPA PENDEKATAN ORGANISASI
Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah menganggap bahwa organisasi harus menggunakan metode-metode ilmiah untuk meningkatka produktivitas. Dalam pandangannya produktivitas pada umumnya menyangkut masalah fisik dan psikologis. Contohnya, seseorang melakukan studi waktu dan gerak untuk pekerjaan menyekop batu bara. Dalam pendekatan ilmiah ini komunikasi dianggap sebagai pemberian perintah dan menjelaskan prosedur dan operasi. Yang dikenal hanyalah struktur formal organisasi dan sistem komunikasi formal.

Pendekatan Hubungan Antar Manusia
Pendekatan hubungan antar manusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian eksklusif faktor-faktor fisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu asumsi prinsip dari pendekatan hubungan antar manusia adalah bahwa kenaikan kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktifitas. Contohnya, seorang karyawan yang bahagia adalah karyawan yang produktif oleh karena itu, fungsi manajemen adalah menjaga agar  para karyawan terus merasa puas.
Dalam hal ini pemimpin menciptakan norma-norma dan para anggota kelompok mengikutinya, pengendalian kepemimpinan dianggap cara terbaik untuk meningkatkan kepuasan dan produksi. Komunikasi merupakan salah satu alat penting manajemen dalam usaha mencapai hasil tersebut.
Pendekatan hubungan antar manusia mengakui pentingnya kelompok sosial, informal di dalam organisasi dan memberikan pertimbangan khusus kepada komunikasi interpersonal di dalam sub-kelopok organisasi tersebut

Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem mengombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dengan pendekatan hubungan antar manusia. Pendekatan ini memandang organisasi sebagai suatu sistem dimana semua bagian berinteraksi dan setiap bagian mempengaruhi bagian lainnya. Organisasi dipandang sebagai suatu sistem terbuka terhadap informasi baru, responsif terhadap lingkunga, bersifat dinamis, dan selalu berubah. Pendekatan sistem menganggap bahwa faktor fisik dan psikologis pada manajemen ilmiah dan faktor sosial dan psikologis pada pendekatan hubungan antar manusia adalah penting.
Setiap faktor mempengaruhi faktor lainnya. Semua harus dipertimbangkan jika ingin agar organisasi dapat berfungsi sempurna. Komunikasi akan menghubungkan berbagai bagian dengan bagian lainnya dan menghasilkan banyak gagasan baru.

Pendekatan Kultur
Sebuah pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa perusahaan harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau kultur. Perspektif kultur memandang organisasi dan para pekerjanya memiliki seperangkat nilai-nilai dan tujuan yang sama. Dalam pandangan kultural, komunikasi tidak hanya sekedar pesan yang dikirim dari satu anggota ke anggota lain melalui satu atau lebih saluran.
Beberapa hal yang dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan beberapa hal baik:
1. Mereka memiliki bias untuk bertindak
2. Mereka berusaha dekat dengan pelanggan
3. Mereka mendorong pemimpin yang mandiri dan berjiwa wirausaha
4. Mereka mencapai produktifitas melalui orang
5. Mereka mendorong manajemen tahu semua
6. Mereka tetap berpegang pada apa yang mereka ketahui
7. Mereka memiliki struktur organisasi yang sederhana dan bersandar pada puncaknya
8. Mereka bersifat desentralisasi (longgar) dan sentralisasi (ketat)

JARINGAN KOMUNIKASI
Yang dimaksud dengan jaringan disini adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif, pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi ini merupakan sistem yang umum yang digunakan oleh kelompok dalam hal mengirimkan pesan dari satu orang ke orang lain.


Struktur Jaringan Komunikasi


Gambar Jaringan Komunikasi Organisasi
1. Struktur Lingkaran. Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya.
2. Struktur Roda. Struktur roda memiliki pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya dipusat. Orang ini merupaka satu – satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.
3. Struktur Y. Struktur Y relative kurang tersentralisasi disbanding denga struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi disbanding dengan pola yang lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin yang jelas (orang ketiga dari bawah pada Gambar 20.2). tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua (orang kedua dari bawah). Anggota ini dapat mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
4. Struktur Rantai. Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggotanya yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat disini. Orang yang berada diposisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada diposisi lain.
5. Struktur Semua Saluran. Struktur semua saluran atau pola bintang hamper sama dengan struktur lingkaran dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama umtuk mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkin adanya partisipasi anggota secara optimum.
Produktifitas dan Semangat Jaringan
Tidak ada jaringan komunikasi yang baik dan buruk dengan sendirinya. Semua jaringan komunikasi lebih baik atau lebih buruk dilihat dari penggunanya. Kepadatan informasi yang akan dibahas kemudian sering terjadi kelompok tersentralisasi karena semua informasi terkumpul pada satu orang. Individu sentral ini sering menjadi pintu gerbang dan mencegah informasi datang dari berbagai anggota.
ARUS KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Pembahasan mengenai komunikasi dalam organisasi dalam bentuk arah arus informasinya sangat penting. Adapun beberapa arah arus komunikasi sebagai berikut:

Komunikasi ke Atas
Komunikasi ke atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hierarki yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi misalnya, para pelaksana ke manajernya, atau dari para dosen ke dekan fakultas.
Komunikasi ke Bawah
Komunikasi ke Bawah merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hierarki yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, pesan yang dikirim oleh manajer kepada karyawannya atau dari dekan fakultas kepada para dosennya.
Komunikasi Lateral
Komunikasi Lateral adalah pesan antara sesame manajer ke manajer, karyawan ke karyawan. Pesan semacam ini bisa bergerak dibagian yang sama didalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi antara dua dosen sejarah perguruan tinggi yang sama. Komunikasi lateral memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah.
Kabar Burung
Merupakan saluran yang informal dimana pesan mengalir didalam suatu organisasi. Pesan yang tergolong kabar burung suatu jenis komunikasi serial tidak mengikuti garis formal semacam itu. Jenis komunikasi ini seringkali sulit dilacak sumber asli dari pesannya sehingga sulit sekali untuk meneliti informasi yang tergolong kabar burung ini.
Istilah kabar burung berasal dari perang saudara ketika kabel telegram digantungkan dari pohon ke pohon dan membentuk kabar burung. Menurut beberapa ahli kabar burung ini sering digunakan apabila:
- Ada perubahan besar di dalam organisasi
- Informasinya baru, tidak seorang pun menyukai informasi usang yang semuanya sudah tahu
- Komunikasi tatap muka secara fisik mudah dilakukan
- Para pekerja terkelompokkan kedalam klik-klik tertentu

Kepadatan Informasi
Merupakan situasi dimana informasi yang dikirim kepada setiap orang melebihi kapasitas orang itu untuk memprosesnya. Kepadatan informasi tampaknya sudah menjalar disemua organisasi dan sudah tentu inilah penyebab mengapa begitu banyak organisasi yang menggunakan komputer untuk mengatasinya.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari Uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kita semua merupakan anggota dari berbagai kelompok kecil. Beberapa dari komunikasi yang secara pribadi paling penting dan paling memuaskan terjadi di dalam kelompok kecil. Sifat dasar dan karakteristik ini kemudian kita pakai sebagai dasar untuk mempelajari empat jenis pokok kelompok kecil dan prosedur yang diikuti para peserta kelompok. Kelompok Kecil tersebut memiliki norma.

Selain kelompok kecil terdapat pula, kelompok pemecah masalah, kelompok nominal, kelompok pengembangan ide, kelompok pengembangan pribadi, kelompok dan pendidikan atau belajar.

Kelompok kecil melakukan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel atau meja bundar, seminar, symposium, dan symposium – forum.

Anggota dalam komunikasi kelompok kecil, menurut kenneth benne dan paul sheats (1948) ada 3 klasifikasi kelas umum: peran tugas kelompok, peran membina dan mempertahankan kelompok dan peran individual.

Analisis proses interaksi menganalisis kontribusi para anggota kelompok kedalam empat ketegori umum: kontribusi positif sosial-emosional, kontibusi negatif sosial-emosional, jawaban percobaan, pertanyaan.

Dalam kebanyakan kelompok kecil, satu orang berperan sebagai pemimpin. Dalam kelompok lain, kepemimpinan bisa dipegang oleh beberapa orang. Lebih lanjut, sang pemimpin bisa ditunjuk atau secara otomatis muncul dalam proses perkembangan komunikasi. Gaya Kepemimpinan Sebagai tambahan untuk melihat perhatian pokok dalam kepemimpinan, seperti yang kita lakukan dengan teori kepemimpinan situasional, kita dapat juga melihat kepemimpinan dari tiga gaya kepemimpinan: lepas kendali, demokratis, dan otoriter (Bennis & Nanus, 1985; Shaw, 1981).

Beberapa pendekatan organisasi : pendekatan ilmiah, pendekatan hubungan antar manusia, pendekatan sistem, pendekatan kultur

Yang dimaksud dengan jaringan disini adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Terdapat lima struktur jaringan yaitu : Struktur Lingkaran, Struktur Roda, Struktur Y, Struktur Rantai, Struktur Semua Saluran.

Arus komunikasi dalam organisasi sebagai berikut: komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah, komunikasi lateral, kabar burung.

Kepadatan Informasi Merupakan situasi dimana informasi yang dikirim kepada setiap orang melebihi kapasitas orang itu untuk memprosesnya. Kepadatan informasi tampaknya sudah menjalar disemua organisasi dan sudah tentu inilah penyebab mengapa begitu banyak organisasi yang menggunakan komputer untuk mengatasinya.


DAFTAR PUSTAKA

Devito, Joseph A. 2011. Teori Komunikasi Antarmanusia. Tangerang Selatan: KARISMA Publishing Group

Artikel ini diambil dari buku Teori Komunkasi Antarmanusia oleh  Joseph A Devito

Monday, March 10, 2014

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

A.Pengertian Komunikasi
Meskipun kita sering berkomunikasi, namun mungkin sekali kita tidak memahami betul apa yang sedang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat berkomunikasi yang baik dan benar. Salah satu cara untuk memahami komunikasi adalah dengan memahami pengertian komunikasi itu sendiri.

Kata atau istilah komunikasi merupakan terjemahan bahasa inggris communication yang dikembangkan di amerika serikat dan komunikasipun berasal dari unsur pesurat kabaran, yakni jouenalism. Adapun definisi komunikasi dapat dilihat dari sudut, yaitu: dari sudut bahasa (etimologi) dan dari sudut istilah (terminologi). Komunikasi menurut bahasa atau etimologi dalam ensiklopedia umum diartikan dengan perhubungan, sedangkan yang terdapat dalam buku komunikasi berasal dari perkataan latin, yaitu:

1.Comunicare, yang berarti berpartisipasi ataupun meberitahukan.
2.Communis, yang berarti milik bersama ataupun berlaku dimana-mana.
3.Communis opinion, yang berarti pendapat umum ataupun pendapat mayoritas.
4.Communico, yang berarti membuat sama.
5.Demikian juga communication berasal dari kata latin communication yang juga bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya sama makna mereka.

Komunikasi adalah transmisi informasi dari seorang individu atau kelompok kepad individu atau kelompok lain, komunikasi merupakan dasar semua bentuk interaksi social. Dalam konteks tatap muka, komunikasi tidak saja diperlihatkan melalui penggunaan bahasa semata-mata, tetapi menggunakan juga tanda-tanda tubuh yang membutuhkan interpretasi tentang apa yang dikatakan dan dibuat oleh orang lain. Dengan berkembangnya media tulisan dan elektronik, seperti radio, televise, atau computer, komunikasi mengubah relasi tatp muka dengan cepat.

B.Pengertian Budaya

Selanjutnya adalah pengertian dari kebudayaan, yaitu yang berasal dari kata sansekerta Buddhayah sebagai bentuk dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Bahasa inggrisnya adalah Culture yang berasal dari kata latin Colere, yang berarti mengolah, mengerjakan atau sebagai segala daya dan usaha manusia untuk mengubah alam.
Dalam ensiklopedia umum, budaya diartikan sebagai keseluruahan warisan social yang dapat dipandang sebagai hasil karya yang tersusun menurut tata tertib teratur, biasanya terdiri daripada kebendaan, kemahiran tehnik, pikiran dan gagasan, kebiasaan dan nilai-nilai tertentu, organisasi social tertentu, dan sebagainya.

C.Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya adalah:

1.Suatu studi tentang perbandingan gagasan atau konsep dalam berbagai kebudayaan,
2.Perbandingan antara satu aspek atau minat tertentu dalam satu kebudayaan.
3.Atau perbandingan antara satu aspek atau minat tertentu dengan satu atau lebih kebudayaan lain.

Disini terlihat bahwa arti komunikasi anatar budaya itu lebih meliputi interaksi antarorang dari latar belakang budaya yang berbeda-beda, dimana definisi komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang mempunyai perbedaan budaya, baik dari bahasa, symbol-simbol atau latar belakang di mana ia berada, komunikasi antar budaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi, apa makna verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya bersangkutan.

Sedangkan komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan interaksi antar orang dari latar belakang budaya yang sama, atau perbandingan suatu aspek tertentu dari suatu kebudayaan dengan orang-orang dari suatu latar belakang budaya lain.

D.Alasan mempelajari komunikasi lintas budaya menurut Litvin (1977) :

a.Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan.
b.Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.
c.Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.
d.Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.
e.Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.
f.Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.
g.Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia.
h.Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.
i.Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.
j.Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahkan atau memudahkan.
k.Situasi-situasi komunikasi antar budaya tidaklah statik dan bukan pula stereotip. Karena itu seorang komunikator tidak dapat dilatih untuk mengatasi situasi. Dalam konteks ini kepekaan, pengetahuan dan keterampilannya bisa membuatnya siap untuk berperan serta dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang efektif dan saling memuaskan.
E.Tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya, menurut Litvin (1977)

a)Menyadari budaya sendiri
b)Lebih peka secara budaya
c)Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
d)Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri
e)Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
f)Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
g)Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya
h)Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
i)Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya.
j)Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.

F.Strategi Komunikasi Lintas Budaya

Strategi komunikasi lintas budaya merupakan suatu strategi yang yang sangat penting dalam membangun sebuah organisasi, munculnya strategi komunikasi lintas budaya ini di dorong oleh faktor globalisasi yang semakin berkembang saat ini dan di dukung oleh keanekaragaman budaya yangterdapat dalam satu negara itu sendiri. Oleh sebab itu muncul-lah strategi komunikasi lintas budaya dimana dalam strategi ini terdapat cara untuk mengatasi perbedaan-perbedaan budaya.

Semakin meningkatnya globalisasi dalam dunia bisnis, sebuah organisasi harus semakin jeli dan selektif dalam memilih strategi-strategi yang digunakan untuk mengatasi perbedaan budaya. Observasi dan evaluasi harus dilakukan se-efektif mungkin agar dapat menentukan dan membuat suatu strategi komunikasi lintas budaya yang efekti. Komparasi dengan teori-teori yang ada dapat mendukung suatu stretegi komunikasi lintas budaya.

DAFTAR REFERENSI
Roudhonah. 2007. Ilmu Komunikasi. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS.
Hardjana, Andre. 2000. System komunikasi Indonesia baru. Jakarta: BIKN.
Http://sbektiistiyanto.files.wordpress.com/2008/02/klb-awal.ppt
http://delapan12.blogspot.com/2010/06/komunikasi-lintas-budaya-adi-saepul.html

Thursday, December 19, 2013

MESIN PEMERINTAHAN

http://iwanbudianto.files.wordpress.com/2010/07/bendera_indonesia2.jpg
              Dalam melaksanakan fungsinya, pemerintah wajib memberikan respon atas permasalahan dan kebutuhan, serta kepentingan publik (responsif) dalam skala, bentuk, kecepatan, cara, dan urutan yang tepat, sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Agar pemerintah dapat bekerja untuk mencapai tujuan negara maka perlu organ atau lembaga, yang oleh Heywood (2002, 291-396) disebut mesin pemerintahan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia sendiri, Mesin adalah perkakas untuk menggerakkan atau membuat sesuatu yg dijalankan dengan roda, digerakkan oleh tenaga manusia atau motor penggerak, menggunakan bahan bakar minyak atau tenaga alam;
Sedangkan pemerintahan adalah proses, cara, perbuatan memerintah: ~ yg berdasarkan demokrasi; atau bisa juga berarti segala urusan yg dilakukan oleh negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan negara.

Jadi bisa disimpulkan bahwa mesin pemerintahan adalah alat untuk menggerakkan pemerintahan melalui sebuah proses, cara, atau perbuatan memerintah yang dilakukan oleh Negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan Negara.
Ada lima macam mesin pemerintahan, yaitu:
1.    Konstitusi, Hukum, dan Pengadilan;
2.    Majelis (assemblies);
3.    Eksekutif (political executives);
4.    Birokrasi;
5.    Militer dan Polisi.


Konstitusi, Hukum, dan Pengadilan

    Konstitusi adalah seperangkat aturan mengenai tugas, kekuasaan, dan fungsi institusi pemerintahan serta menegaskan hubungan antara negara dan individu.
    Konstitusi sering disebut sebagai undang-undang dasar, padahal konstitusi merupakan peraturan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
    Kedudukan konstitusi dalam pemerintahan sangat penting, sebagaimana diungkapkan oleh Thomas Paine Government without constitution is power without right.

Tujuan konstitusi:
    Memberdayakan negara
    Menentukan nilai dan tujuan bagi masyarakat
    Mendorong stabilitas pemerintahan
    Melindungi individu dari negara
    Memberikan legitimasi terhadap rezim

Memberdayakan Negara
Konstitusi menandai eksistensi negara dan ruang kewenangan negara. Konstitusi menentukan di wilayah mana konstitusi berlaku. Di negara federal misalnya, konstitusi berlaku dalam yurisdiksinya masing-masing. Masing-masing negara federal memiliki konstitusi. Konstitusi nasional berlaku di seluruh negara.

Menentukan Nilai dan Tujuan
Konstitusi memberi kerangka pikir (frame work) pemerintah dengan seperangkat nilai politik, kondisi ideal, dan tujuan negara, yang akan menjadi landasan tindakan negara. Pada umumnya dalam konstitusi terlihat ideologi apa yang dianut oleh negara.


Mendorong stabilitas pemerintahan
Konstitusi memuat alokasi tugas, kekuasaan, dan fungsi lembaga-lembaga pemerintahan.
Oleh karena itu, ketertiban, stabilitas, dan kerja pemerintah telah ditentukan. Mencegah perebutan wewenang, tugas, dan fungsi antarlembaga pemerintahan. Di samping itu, adanya konstitusi membuat tugas dan fungsi lembaga pemerintahan dapat diprediksi.

Melindungi Individu dari Negara
Konstitusi mengatur hubungan antara individu dengan negara. Konstitusi juga menegaskan kewenangan pemerintah dan kebebasan personal, dengan adanya hak sipil dan kebebasan sipil. Dengan adanya jaminan hak dan kebebasan sipil oleh konstitusi maka individu terlindungi dari kesewenang-wenangan negara.

Memberikan Legitimasi Terhadap Rezim
Konstitusi menjadi syarat keanggotaan komunitas internasional dan pengakuan dari negara lain. Lembaga-lembaga seperti PBB, IMF, Bank Dunia, hanya menerima anggota negara (merdeka). Tidak menerima perorangan atau organisasi bukan negara. Untuk menjadi negara merdeka dan diakui oleh negara lain, harus memiliki konstitusi.
Konstitusi membangun legitimasi domestik. Konstitusi menjadi dokumen historis, merupakan simbol tujuan nasional dan simbol identitas nasional.

Manfaat konstitusi:
    Menjaga stabilitas politik
    Membatasi pemerintah
    Menjamin hak dan kebebasan wn

Efektif atau tidaknya konstitusi dipengaruhi oleh kondisi budaya, politik, ekonomi, sosial. Juga kelompok dominan.


Indonesia lebih mengembangkan konstitusi tertulis, dan cenderung mengabaikan konstitusi tidak tertulis seperti di Inggris, Selandia Baru, atau Aab Saudi. Ini terlihat dari TAP MPR tentang tata urut peraturan perundangan yang semuanya berupa aturan tertulis (UUD 1945 4x perubahan, TAP MPR, UU, Perpu, PP, Kepres, Perda).


Hukum, Moral, & Politik
Hukum[4] adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan.[5] dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih. Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan militer. filsuf Aristotle menyatakan bahwa "Sebuah supremasi hukum akan jauh lebih baik dari pada dibandingkan dengan peraturan tirani yang merajalela."[6][7]
Hukum dapat dibagi dalam berbagai bidang, antara lain hukum pidana/hukum publik, hukum perdata/hukum pribadi, hukum acara, hukum tata negara, hukum administrasi negara/hukum tata usaha negara, hukum internasional, hukum adat, hukum islam, hukum agraria, hukum bisnis, dan hukum lingkungan. Hukum pidana
Hukum pidana termasuk pada ranah hukum publik. Hukum pidana adalah hukum yang mengatur hubungan antar subjek hukum dalam hal perbuatan - perbuatan yang diharuskan dan dilarang oleh peraturan perundang - undangan dan berakibat diterapkannya sanksi berupa pemidanaan dan/atau denda bagi para pelanggarnya.
Dalam hukum pidana dikenal 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran.
1.    Kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan peraturan perundang - undangan tetapi juga bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat. Pelaku pelanggaran berupa kejahatan mendapatkan sanksi berupa pemidanaan, contohnya mencuri, membunuh, berzina, memperkosa dan sebagainya.
2.    Sedangkan pelanggaran ialah perbuatan yang hanya dilarang oleh peraturan perundangan namun tidak memberikan efek yang tidak berpengaruh secara langsung kepada orang lain, seperti tidak menggunakan helm, tidak menggunakan sabuk pengaman dalam berkendaraan, dan sebagainya.
Di Indonesia, hukum pidana diatur secara umum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), yang merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Belanda, sebelumnya bernama Wetboek van Straafrecht (WvS). KUHP merupakan lex generalis bagi pengaturan hukum pidana di Indonesia dimana asas-asas umum termuat dan menjadi dasar bagi semua ketentuan pidana yang diatur di luar KUHP (lex specialis)
Hukum perdata
Salah satu bidang hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara individu-individu dalam masyarakat dengan saluran tertentu. Hukum perdata disebut juga hukum privat atau hukum sipil. Salah satu contoh hukum perdata dalam masyarakat adalah jual beli rumah atau kendaraan .
Hukum perdata dapat digolongkan antara lain menjadi:
1.    Hukum keluarga
2.    Hukum harta kekayaan
3.    Hukum benda
4.    Hukum Perikatan
5.    Hukum Waris
Hukum acara
Untuk tegaknya hukum materiil diperlukan hukum acara atau sering juga disebut hukum formil. Hukum acara merupakan ketentuan yang mengatur bagaimana cara dan siapa yang berwenang menegakkan hukum materiil dalam hal terjadi pelanggaran terhadap hukum materiil. Tanpa hukum acara yang jelas dan memadai, maka pihak yang berwenang menegakkan hukum materiil akan mengalami kesulitan menegakkan hukum materiil. Untuk menegakkan ketentuan hukum materiil pidana diperlukan hukum acara pidana, untuk hukum materiil perdata, maka ada hukum acara perdata. Sedangkan, untuk hukum materiil tata usaha negara, diperlukan hukum acara tata usaha negara. Hukum acara pidana harus dikuasai terutama oleh para polisi, jaksa, advokat, hakim, dan petugas Lembaga Pemasyarakatan.
Hukum acara pidana yang harus dikuasai oleh polisi terutama hukum acara pidana yang mengatur soal penyelidikan dan penyidikan, oleh karena tugas pokok polisi menrut hukum acara pidana (KUHAP) adalah terutama melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan. Yang menjadi tugas jaksa adalah penuntutan dan pelaksanaan putusan hakim pidana. Oleh karena itu, jaksa wajib menguasai terutama hukum acara yang terkait dengan tugasnya tersebut. Sedangkan yang harus menguasai hukum acara perdata. termasuk hukum acara tata usaha negara terutama adalah advokat dan hakim. Hal ini disebabkan di dalam hukum acara perdata dan juga hukum acara tata usaha negara, baik polisi maupun jaksa (penuntut umum) tidak diberi peran seperti halnya dalam hukum acara pidana. Advokatlah yang mewakili seseorang untuk memajukan gugatan, baik gugatan perdata maupun gugatan tata usaha negara, terhadap suatu pihak yang dipandang merugikan kliennya. Gugatan itu akan diperiksa dan diputus oleh hakim. Pihak yang digugat dapat pula menunjuk seorang advokat mewakilinya untuk menangkis gugatan tersebut.
Tegaknya supremasi hukum itu sangat tergantung pada kejujuran para penegak hukum itu sendiri yang dalam menegakkan hukum diharapkan benar-benar dapat menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Para penegak hukum itu adalah hakim, jaksa, polisi, advokat, dan petugas Lembaga Pemasyarakatan. Jika kelima pilar penegak hukum ini benar-benar menegakkan hukum itu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang telah disebutkan di atas, maka masyarakat akan menaruh respek yang tinggi terhadap para penegak hukum. Dengan semakin tingginya respek itu, maka masyarakat akan terpacu untuk menaati hukum.
Sistem hukum
Ada berbagai jenis sistem hukum yang berbeda yang dianut oleh negara-negara di dunia pada saat ini, antara lain sistem hukum Eropa Kontinental, common law system, sistem hukum Anglo-Saxon, sistem hukum adat, sistem hukum agama.
Sistem hukum Eropa Kontinental
Sistem hukum Eropa Kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang menganut sistem hukum ini.
Sistem hukum umum adalah suatu sistem hukum yang digunakan di Inggris yang mana di dalamnya menganut aliran frele recht lehre yaitu dimana hukum tidak dibatasi oleh undang-undang tetapi hakim diberikan kebebasan untuk melaksanakan undang-undang atau mengabaikannya.
Sistem hukum Anglo-Saxon
Sistem Anglo-Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum ini diterapkan di Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec) dan Amerika Serikat (walaupun negara bagian Louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistem hukum Eropa Kontinental Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain juga menerapkan sistem hukum Anglo-Saxon campuran, misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo-Saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama.
Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman.Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara.
Sistem hukum adat/kebiasaan
Hukum Adat adalah seperangkat norma dan aturan adat/kebiasaan yang berlaku di suatu wilayah. misalnya di perkampungan pedesaan terpencil yang masih mengikuti hukum adat. dan memiliki sanksi sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di wilayah tertentu.
Sistem hukum agama
Sistem hukum agama adalah sistem hukum yang berdasarkan ketentuan agama tertentu. Sistem hukum agama biasanya terdapat dalam Kitab Suci.
Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa, hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana berbasis pada hukum Eropa, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum agama karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau syariat Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan, dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat yang diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi,[1] yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah nusantara.
Untuk mewujudkan stabilitas dan tegaknya moral publik perlu hukum.
Hukum: boleh dan tidak boleh (tertib hukum), objektif
Moral: benar salah, berdasar pada pendapat dan penilaian personal
Plato & Aristoteles: hukum harus berakar pada sistem nilai masyarakat
Kini: kebebasan sipil atau HAM


Pengadilan adalah sebuah forum publik, resmi, di mana kekuasaan publik ditetapkan oleh otoritas hukum untuk menyelesaikan perselisihan dan pencarian keadilan dalam hal sipil, buruh, administratif, dan kriminal di bawah hukum. Dalam negara dengan sistem common law, pengadilan merupakan cara utama untuk penyelesaian perselisihan, dan umumnya dimengerti bahwa semua orang memiliki hak untuk membawa klaimnya ke pengadilan. Dan juga, pihak tertuduh kejahatan memiliki hak untuk meminta perlindungan di pengadilan.


Majelis (Assemblies)

Adalah lembaga yang mewakili rakyat. Merupakan posisi kunci dalam mesin pemerintahan. Disebut juga legislatif atau parlemen. Ketiga istilah tersebut sering dipakai secara bergantian. Di Indonesia disebut lembaga legislatif: MPR, DPD dan DPR/D.

Fungsi Majelis
1. Legislasi
Adalah pembuatan peraturan perundangan. Merupakan fungsi kunci majelis. Aturan yang dibuat majelis bersifat mengikat dan otoritatif.
2. Perwakilan (representation)
Merupakan perwakilan rakyat. Biasanya dipilih melalui pemilu. Majelis memainkan peranan penting dalam menghubungkan rakyat dengan pemerintahan.
3. Scrutiny
Majelis dapat memanggil eksekutif untuk meneliti dengan seksama kesalahan yang dilakukan oleh eksekutif. Tujuannya agar tercipta pemerintahan yang responsif (tanggap terhadap persoalan masyarakat) dan akuntabel (pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat). Di Indonesia: Hak Angket untuk menyelidiki kasus tertentu. Contoh: Pansus Century.
4. Rekrutmen politik
Majelis menjadi saluran utama penyertaan warga negara biasa dalam masyarakat politik (political siciety).
5. Legitimasi
Mengembangkan legitimasi rezim, dengan mendorong masyarakat untuk melihat bahwa system of rule dilaksanakan secara ’rightful’.

Struktur Majelis
Struktur majelis biasanya satu kamar (unikameral) dan dua kamar (bikameral). Sistem unikameral hanya terdiri dari satu jenis keanggotaan, seperti di Israel. Sedangkan bikameral jika dalam majelis terdapat dua macam keanggotaan (kamar), seperti Konggres AS. Konggres terdiri dari anggota Senat, yang mewakili negara bagian dan anggota House of Representative yang mewakili masyarakat AS secara keseluruhan. Keputusan yang dibuat harus mendapatkan persetujuan dari kedua kamar.
Indonesia: bikameral, DPD yang mewakili daerah (provinsi) dan DPR yang mewakili rakyat. Sayang, kewenangan DPD sangat terbatas dan pada Pemilu 2009 anggota partai bisa menjadi anggota DPD. Sulit mengharapkan DPD berperan maksimal mewakili daerahnya.
Kelebihan dan kelemahan sistem bikameral:
Kelebihan
1. Kamar kedua dapat mengimbangi kamar pertama dan mencegah pemerintahan oleh mayoritas.
2. Lebih efektif untuk mengimbangi kekuatan eksekutif karena memiliki dua kamar untuk mengekspos kegagalan eksekutif.
3. Dua kamar memiliki basis perwakilan yang lebih luas.
4. Eksistensi kamar kedua memastikan kesungguhan kerja kamar pertama untuk mengawasi eksekutif serta dapat mengoreksi kesalahan dan kelalaian kamar pertama.
5. Kamar kedua dapat melindungi konstitusi, menunda penerimaan undang-undang yang kontrovesial serta mengadakan diskusi publik dan debat publik.

Kekurangan:
1. Dua kamar membuat proses legislasi kompleks dan sulit. Satu kamar lebih efisien.
2. Kamar kedua sering bertindak sebagai pengawas aturan demokrasi, jika anggotanya bukan berasal dari pemilihan atau pemilihan tidak langsung.
3. Bikameral menjadi resep bagi konflik institusional dalam legislatif.
4. Akses terhadap pembuatan kebijakan sempit.
5. Kamar kedua kadang menjadi bias kepentingan elit sosial.



Eksekutif (political executives)
Eksekutif adalah lembaga yang memformulasikan kebijakan pemerintah dan memastikannya untuk diimplementasikan. Eksekutif merupakan lembaga utama pemerintahan. Eksekutif, khususnya kepala eksekutif, menjadi wajah politik.

Fungsi Eksekutif:
1. Pemimpin seremonial kenegaraan
2. Mengontrol pembuatan kebijakan
3. Pemimpin politik
4. Manajemen birokrasi
5. Merespon krisis

Eksekutif bisa dipimpin oleh presiden (dalam sistem pemerintahan presidensial) atau oleh perdana menteri (sistem parlementer)


Birokrasi
Birokrasi merupakan mesin administrasi negara. Mereka adalah civil  servant  dan public official (PNS). Birokrasilah yang mengeksekusi urusan pemerintahan.
Fungsi birokrasi:
1. Pelaksana administrasi
Birokrasilah yang meingimplementasikan atau mengeksekusi hukum dan kebijakan. Birokrasi menangani pengadministrasian urusan pemerintahan.
2. Birokrasi merupakan sumber informasi kebijakan pemerintah.



Militer dan Polisi

Militer merupakan organisasi yang memiliki monopoli dalam kepemilikan senjata dan penggunaan kekerasan. Memiliki disiplin tinggi dan hirarki organisasi yang ketat serta nilai dan budaya yang khas, berbeda dengan civil society.
Militer merupakan instrumen perang.
Polisi merupakan bagian civil society. Bertugas menjaga ketertiban dalam negeri.


Salah satu isu penting mengenai mesin-mesin pemerintahan adalah kesesuaian antara sistem pemerintahan (presidensial atau parlementer) dengan sistem kepartaian (dua partai atau banyak partai/multipartai).
Indonesia yang sangat majemuk membutuhkan sistem kepartaian multipartai, sistem pemilu yang proporsional, dan sistem pemerinyahan yang parlementer. Harus pula dikuatkan (semua pelaku politik, termasuk warga negaranya menerapkan prinsip-prinsip demokrasi: Memahami & toleransi, kebebasan, kebebasan individu tidak boleh mengganggu kebebasan lain, pelibatan rakyat dalam proses politik, terjadinya korespondensi, kesesuaian antara kebutuhan rakyat dengan kebijakan publik.

http://destiwd.blogspot.com/2011/11/mesin-mesin-pemerintahan.html
http://kbbi.web.id/mesin
http://kbbi.web.id/perintah
http://www.anneahira.com/pengertian-konstitusi.htm